Menyembah dan Bekerja
Banyak orang mengira bahwa keinginan Allah yang terbesar adalah memperoleh "pekerja-pekerja". Ini tidaklah benar. Yesus dengan jelas mengatakan pada murid-muridNya bahwa Allah Bapa sedang mencari "penyembah-penyembah" —mereka yang akan menyembahNya dalam Roh dan Kebenaran (Yoh 4 23).
Panggilan kita yang terbesar dan tertinggi adalah untuk menyembah Tuhan—sebelum melakukan segala sesuatu. Jika kita melakukannya, Allah tidak akan mengalami kekurangan pekerja. Penyembah-penyembah yang benar selalu menjadipekerja-pekerja yang benar. Kasih yang sejati selalu berusaha untuk menyenangkan dan melaksanakan kehendak dari orang yang dikasihinya!
Kebenaran ini tampak dengan jelas dalam kisah yang sangat kita kenal yaitu tentang Maria dan Martha (Luk 10:38-42). Martha sedang berada di dapur bekerja dan penuh rasa kekhawatiran. Maria berada di bawah kaki Yesus menyembah dan belajar untuk mendengar. Yesus berkata bahwa bagian Maria adalah yang paling penting, dan hal itu tidak akan diambil daripadanya.
Orang-orang Kristen bukan terutama "diselamatkan untuk melayani", tapi "dipanggil untuk menyembah". Tuhan menginginkan agar penyembahan itu menjadi pertama—sebelum segala sesuatu. Jika kita tidak masuk dalam pelayanan pada Tuhan, kita tidak akan pernah memiliki pelayanan yang efektif bagi sesama ataubagi dunia.
1. Gereja Di Antiokia
Gereja di Antiokia menunjukkan bahwa penyembahan harus ditempatkan sebagai hal penting yang pertama—bahkan sebelum kebaktian. Gereja ini adalah gereja yang "bekerja", tapi sebelum melakukan pekerjaannya lebih dahulu ada penyembahan.
Apa yang dilakukan gereja itu sebelum Paulus dan Barnabas dipilih oleh Roh dan diutus keluar sebagai "para pekerja" untuk misi di ladang-ladang Allah? Mereka menyembah Allah!
"Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka’"(Kis 13:2).
Sangatlah menarik untuk dicatat bahwa Kisah Rasul 13:1 mengatakan pada kita bahwa ada nabi-nabi dan guru-guru dalam gereja. Jelasnya, prioritas pelayanan mereka bukan bernubuat atau mengajar, tapi menyembah. Setiap orang menyembah melayani Tuhan. Dari pelayanan penyembahan mengalir nubuatan Allah tentang pekerjaan yang harus dilakukan.
Tingkatan atau tahap-tahap itu jelasnya dalam susunan seperti ini:
a. Penyembahan: Pertama, ada "penyembahan" bagi Tuhan
b. Firman: Kedua, ada "Firman" dari Tuhan
c. Pekerjaan: Ketiga, ada "pekerjaan" bagi Tuhan
Pelayanan pada dunia mengikuti pelayanan pada Tuhan.
2. Tidak Ada Penyembahan—Tidak Ada Hujan!
Prioritas ilahi untuk menyembah ini dapat dilihat dalam kata-kata nubuatan yang keluar dari mulut Zakharia: "Tetapi bila mereka dari kaum-kaum di bumi tidak datang ke Yerusalem untuk sujud menyembah kepada Raja, Tuhan semesta alam, makakepada mereka tidak akan turun hujan" (Za 14:7).
Prinsipnya sudah jelas: tidak ada penyembahan, tidak ada hujan! Kegiatan tanpa penyembahan akan menghasilkan sedikit tuaian—tidak peduli bagaimana kerasnya kita bekerja. Mengapa? Dibutuhkan hujan Roh Allah untuk menghasilkan tuaian. Tanpa penyembahan, kita tidak akan memperoleh hujan. Jika kita tidak memiliki waktu untuk menyembah, jam kerja kita akan hanya menghasilkan buah yang sedikit.Perintah ilahi Allah adalah untuk menyembah lalu bekerja. Pelayanan pada Tuhan menghasilkan berkat-berkat dari RohNya atas usaha kita. Tuhan jauh lebih Ada beberapa halangan tertentu untuk memuji, namun Allah menginginkan agar kita dapat memenangkan semua halangan-halangan itu. Dia tidak mau menerima halangan apapun yang kita kemukakan sebagai alasan untuk tidak memuji Dia.
1. Dosa
Dosa adalah halangan yang pertama untuk memuji. Ini adalah alasan dasar mengapa orang-orang yang belum bertobat tidak memuji Allah. Ini juga merupakan satu alasan mengapa beberapa orang Kristen juga tidak mau memuji Allah.
Dosa yang belum diakui menghalang-halangi kita di dalam hadirat Allah. Apabila kita menyadari adanya dosa yang belum diampuni dalam hidup kita, kita tak akan merasa bebas atau merasa tenang didalam hadirat Allah.
Daud berkata, "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, [ Apabila aku menyadari ada dosa di dalam hidupku], tentulah Tuhan tidak mau mendengar" (Mzm 66:18). Dosa dan kesalahan akan memisahkan kita dari Allah, (Yes 59:2) dan kita akan kehilangan persekutuan yang dulu pernah kita nikmati.
Adanya dosa dalam hidup kita akan mengikat lidah kita di hadapan Tuhan. Hal yang dapat kita bicarakan dengan bebas pada Dia dalam situasi seperti ini adalah dosa-dosa kita.
Jawaban yang jelas dari halangan ini ialah: Akuilah dosa-dosa itu pada Allah dan terimalah dengan sungguh-sungguh pengampunanNya dan penyucianNya sehingga hubungan kita dengan Allah dapat dipulihkan, dan pujian itu dapat mengalir dari diri kita (1Yoh 1:9)
2. Hukuman (Penuduhan)
Sekalipun kita telah diampuni oleh Tuhan, tidak selalu mudah untuk mengampuni diri kita sendiri. Banyak orang Kristen tetap tinggal di dalam perasaan bersalah dan tertuduh. Walaupun Allah dengan bebasnya mengampuni mereka, mereka tidak dapat mengampuni diri mereka sendiri.
Ini yang mengakibatkan suatu perasaan tidak berharga. Dan kebebasan untuk menyembah itu sepertinya terhambat. Mereka cenderung untuk "menundukkan kepalanya" di dalam hadirat Allah. Hadirat Allah cenderung membuat mereka merasa lebih tidak layak. Mereka tidak dapat merasa yakin akan kemurahan dan kasih karunia Allah yang telah diberikan kepada mereka. Sikap seperti ini seringkali datang karena kesadaran akan dirinya sendiri lebih besar dari kesadaran akan Allah. Apabila kita terus menerus menyelidiki hati kita dengan sikap yang negatif dan selalu mencari kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan kita, kita akan selalu menemukannya. Tidak seorang pun yang sempurna.
Inspeksi diri atau memeriksa diri sendiri yang keterlaluan ini pun tidak sehat. Perhatian itu selalu tertuju pada diri sendiri, bukan pada Yesus.
Alkitab menasehatkan kita untuk "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan" (Ibr 12:2). Dan hal ini paling sedikit akan menyelesaikan dua hal:
Pertama, menghilangkan pemikiran-pemikiran dan perhatian pada diri kita sendiri dan mulai memandang Yesus. Yang kedua, makin kita melihat dan memikirkan Yesus, merenungkan tentang Dia, memenuhi segenap pikiran kita dengan Dia, maka makin kita mempunyai kerinduan untuk memuji Dia. Beginilah bagaimana pujian itu dimulai dengan memandang pada Yesus. Pujian dan penghargaan kita pada Dia akan makin bertambah pada saat kita melakukan ini. Kesadaran kita akan betapa layaknya Dia itu akan bertambah, dan ini akan meningkatkan pemikiran-pemikiran kita di dalam pujian dan penyembahan padaNya.
29 Mei 2009
PRIORITAS DOA
Matius 6:10
PENDAHULUAN
Mekilta adalah sebuah manuskrip kuno yang memuat tafsiran tentang hampir seluruh buku keluaran. Didalamnya juga terdapat perumpamaan berikut. Ada seorang pria yang datang kesbuah propinsi dan bertanya kepada penduduk kota itu kalau-kalau ia boleh memerintah mereka. Rakyat itu berkata “kebaikan apakah yang telah anda kerjakan bagi kami? Mengapa kami harus menjadi bawahan anda? Sebagai tanggapan itu maka pria tadi membangun sebuah tembok kota, ia mengalirkan air ke propinsi itu dan ia juga berperang bagi mereka. Kemudia ia mengajukan pertanyaan kepada rakyat itu bolehkan aku memerintah kalian, maka jawab mereka ya tentu saja tentu saja. Perumpamaan itu masih berlanjut, demikianlah Allah yang kita sembah Dia telah menebus kita dari Dosa, menyediakan segala kebutuhan kita yang berperang bagi kita, kalau sekarang Allah bertanya kepada kita bolehkan Aku memerintah atasmu? Apakah jawab kita ya! Pasti tentu saja itulah jawaban kita. Namun seringkali dalam penerapan kehidupan kita hal itu jarang terjadi, bahkan kita menggantikan tempat dimana seharusnya Allah bertahta dengan keegoisan kita, keakuan kita.
Datanglah kerajaanMU dan jadilah kehendakMu, dalam bahasa Yunani pun diletakan diawal kalimat hal ini mengartikan bahwa kefuaa kata menunjukan kemantapan dan ketegasan dalam melakukan segala sesuatu.
Setiap hari kita merindukan supaya kehendakNya jadi itu sebabnya mari kita bersikap tegas dalam berdoa, jangan lagi memanjatkan doa yang merengek-rengek, “ o.. Yesus tolonglah aku” mulailah dengan berani menyatakan janji-janji Allah, berdiri teguh didalam kemenangan yang telah diraih Kristus bagi kita
Kita mengingikan prioritas Allah diteguhkan dalam kehidupan kita, tapi sayang kita sering mengizinkan banyak hal kecil yang membawa kepada kekuatiran dan masalaah yang menghimpit hal-hal yang penting yang seharusnya diberi prioritas yang utama. Banyak hal yang mendesak mengalahkan hal yang penting. ( contoh lubang kancing baju ) kehidupan kita seperti itu kalau Allah tidak menjadi prioritas yang utama maka tidak ada hal yang lurus, dan rapi sebagaimana yang seharusnya, kesehataan, emosi, tujuan dan hubungan kita akan menjadi terganggu.
Mengatur prioritas waktu kita memang penting, namun setelah itu kita juga harus membuat prioritas dari doa kita. Pada waktu kita berdoa kita harus menyatakan agar kerajaan Allah datang dan kehendakNya jadi dalam keempat hal dalam hidup kita.
1. DIRI ANDA SENDIRI
Mulailah dengan diri kita sendiri ( Yak 5:16 )
Anda memerlukan hikmat untuk dapat mengelola kegiatan anda hari demi hari, undanglah Yesus untuk menduduki tampat yang menjadi hakNya dan memerintah atas seluruh hidup anda kemudian doakanlah kegiatan anda sepanjang hari itu, sebab kalau Yesus bukan Tuhan didalam diri Anda maka Ia tidak akan menjadi Tuhan dalam prioritas yang kedua.
2. KELUARGA ANDA
Bagi kita yang sudah menikah doakanlah pasangan hidup anda, berdoa agar kebenaran sukacita dan damaai sejahtera memerintah atasnya, doakaanlah kebutuhan pasangan hidup dan juga untuk anak-anak kita hal ini penting mengapa? Sebab kalau kita gagal dalam keluarga maka pekerjaan kita untuk rumah Allah juga akan terhalang.
3. GEREJA
Fakta yang tidak dapat disangkal, bahwa sebagai orang percaya anda dan saya adalah bala tentara Allah dan kita sedang menghadapi peperangan sudah saatnya kita menyadari bahwa tentara Allah dibentuk untuk berperang. Allah telah memanggil kita untuk menjadi pahlawan untuk menjadi pasukan yang yang penuh dengan kuasa dan pengurapan, ( I tim 6:12 ) “berjuanglah…” bukan kalau kamu mau…” karena itu doakanlah Gembalaa. Pemimpin, kesetiaan jemaat, dan juga tuaian.
4. BANGSA DAN NEGARA
Doakanlah bangsa dan Negara kita khusunya para pemimpin kita supaya mereka diberi hikmat oleh Tuhan dalam memipin bangsa ini, minta supaya Tuhan juga memperluas belas kasihan kita, dan minta supaya kerajaanNya datang dan kehendakNYa jadi bagi bangsa.
Matius 6:10
PENDAHULUAN
Mekilta adalah sebuah manuskrip kuno yang memuat tafsiran tentang hampir seluruh buku keluaran. Didalamnya juga terdapat perumpamaan berikut. Ada seorang pria yang datang kesbuah propinsi dan bertanya kepada penduduk kota itu kalau-kalau ia boleh memerintah mereka. Rakyat itu berkata “kebaikan apakah yang telah anda kerjakan bagi kami? Mengapa kami harus menjadi bawahan anda? Sebagai tanggapan itu maka pria tadi membangun sebuah tembok kota, ia mengalirkan air ke propinsi itu dan ia juga berperang bagi mereka. Kemudia ia mengajukan pertanyaan kepada rakyat itu bolehkan aku memerintah kalian, maka jawab mereka ya tentu saja tentu saja. Perumpamaan itu masih berlanjut, demikianlah Allah yang kita sembah Dia telah menebus kita dari Dosa, menyediakan segala kebutuhan kita yang berperang bagi kita, kalau sekarang Allah bertanya kepada kita bolehkan Aku memerintah atasmu? Apakah jawab kita ya! Pasti tentu saja itulah jawaban kita. Namun seringkali dalam penerapan kehidupan kita hal itu jarang terjadi, bahkan kita menggantikan tempat dimana seharusnya Allah bertahta dengan keegoisan kita, keakuan kita.
Datanglah kerajaanMU dan jadilah kehendakMu, dalam bahasa Yunani pun diletakan diawal kalimat hal ini mengartikan bahwa kefuaa kata menunjukan kemantapan dan ketegasan dalam melakukan segala sesuatu.
Setiap hari kita merindukan supaya kehendakNya jadi itu sebabnya mari kita bersikap tegas dalam berdoa, jangan lagi memanjatkan doa yang merengek-rengek, “ o.. Yesus tolonglah aku” mulailah dengan berani menyatakan janji-janji Allah, berdiri teguh didalam kemenangan yang telah diraih Kristus bagi kita
Kita mengingikan prioritas Allah diteguhkan dalam kehidupan kita, tapi sayang kita sering mengizinkan banyak hal kecil yang membawa kepada kekuatiran dan masalaah yang menghimpit hal-hal yang penting yang seharusnya diberi prioritas yang utama. Banyak hal yang mendesak mengalahkan hal yang penting. ( contoh lubang kancing baju ) kehidupan kita seperti itu kalau Allah tidak menjadi prioritas yang utama maka tidak ada hal yang lurus, dan rapi sebagaimana yang seharusnya, kesehataan, emosi, tujuan dan hubungan kita akan menjadi terganggu.
Mengatur prioritas waktu kita memang penting, namun setelah itu kita juga harus membuat prioritas dari doa kita. Pada waktu kita berdoa kita harus menyatakan agar kerajaan Allah datang dan kehendakNya jadi dalam keempat hal dalam hidup kita.
1. DIRI ANDA SENDIRI
Mulailah dengan diri kita sendiri ( Yak 5:16 )
Anda memerlukan hikmat untuk dapat mengelola kegiatan anda hari demi hari, undanglah Yesus untuk menduduki tampat yang menjadi hakNya dan memerintah atas seluruh hidup anda kemudian doakanlah kegiatan anda sepanjang hari itu, sebab kalau Yesus bukan Tuhan didalam diri Anda maka Ia tidak akan menjadi Tuhan dalam prioritas yang kedua.
2. KELUARGA ANDA
Bagi kita yang sudah menikah doakanlah pasangan hidup anda, berdoa agar kebenaran sukacita dan damaai sejahtera memerintah atasnya, doakaanlah kebutuhan pasangan hidup dan juga untuk anak-anak kita hal ini penting mengapa? Sebab kalau kita gagal dalam keluarga maka pekerjaan kita untuk rumah Allah juga akan terhalang.
3. GEREJA
Fakta yang tidak dapat disangkal, bahwa sebagai orang percaya anda dan saya adalah bala tentara Allah dan kita sedang menghadapi peperangan sudah saatnya kita menyadari bahwa tentara Allah dibentuk untuk berperang. Allah telah memanggil kita untuk menjadi pahlawan untuk menjadi pasukan yang yang penuh dengan kuasa dan pengurapan, ( I tim 6:12 ) “berjuanglah…” bukan kalau kamu mau…” karena itu doakanlah Gembalaa. Pemimpin, kesetiaan jemaat, dan juga tuaian.
4. BANGSA DAN NEGARA
Doakanlah bangsa dan Negara kita khusunya para pemimpin kita supaya mereka diberi hikmat oleh Tuhan dalam memipin bangsa ini, minta supaya Tuhan juga memperluas belas kasihan kita, dan minta supaya kerajaanNya datang dan kehendakNYa jadi bagi bangsa.
MAJU BERSAMA ALLAH
Keluaran 14:1-15
Bangsa Israel telah dituntun oleh Tuhan untuk keluar dari tanah Mesir, dan Tuhan juga telah melepaskan dari perbudakan yang menekan mereka selama ada di Mesir, namun ternyata perjalanan tidak semulus yang mereka bayangkan, perjalanan kepada negeri perjanjian tidak seindah yang mereka inginkan. ( Kel. 14:2 ) disana menuliskan Tuhan menyuruh mereka untuk kembali lagi dan berkemah ditepi laut, suatu hal yang sulit dan ketika para tentara Israel mengejar mereka, apa yang dapat mereka buat ? didepan mereka laut yang luas, dibelakang mereka ada pedang Firaun yang siap untuk meenghancurkan mereka, dan disekeliling mereka adalah gunung-gunung yang tinggi mengelilingi mereka lantas apa yang dapat mereka lakukan ( kel. 14:11-12 ), namun ketika mereka ada didalam keadaan seperti itu, hanya satu yang Tuhan perintahkan kepada mereka yaitu “maju”
Mungkin kita pernah mengalami hal yang sama namun tidak serupa artinya ada masa-masa atau keadaan dimana kita merasa tidak bisa berbuat apa-apa, ada pergumulan yang berat didepankita, ada bahaya besar yang ada dibelakang kita sedangkan gunung-gunung ada disekitar kita, atau mungkin itu terjadi dalam pelayanan kita saat ini, ketika kita melihat kedepan sepertinya tidak ada kemungkinan untuk maju, kalau kita melihat kebelakang sepertinya dikejar oleh tuntutan-tuntutan, apalagi melihat sekeliling kita ada banyak gunung-gunung yang tinggi, namun satu perintah yang sama Tuhan juga berikan buat kita semua yaitu “berangkat”, “maju”, inilah sesuatu yang tidak mudah kita kerjakan dalam kondisi yang mungkin seperti dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu. Lantas apa yang kita perbuat ?
Mungkin, kalau kita melihat dan mengumpamakan diri kita bangsa Israel pada waktu itu pasti ada sesuatu ketidak percayaan yang ada dalam pikiran kita, kemustahilan dalam pikiran kita, atau sungut-sungut yang keluar dari lidah bibir kita. Itulah yang mungkin terjadi, namun Tuhan ingin ketika ketidakpercayaan itu mendatangi kita Tuhan menginginkan kita untuk mempercayai-Nya, ketika kemustahilan itu ada dalam pikiran kita, Tuhan mengingkan kita untuk berserah kepada-Nya, dan ketika muncul sungut-sungut dari lidah bibir kita maka disaat itulah Tuhan mengajar kita untuk bersyukur kepada-Nya. Jika dalam pelayanan kita sekarang kita mengalami kondisi yang seperti ini mari kita mulai mempercayakan pelayanan kita kepada Tuhan, karena pelayanan ini adalah milik-Nya, bukan milik kita kita hanya sebagai alat-Nya, ada sebuah kisah yang menggambarkan tentang rasa percaya ini. Di Afrika ada sebuah tim botanical yang sedang meneliti berbagai macam tumbuh-tumbuhan, dan juga bunga-bunga, ketika disuatu tempat mereka melihat ada sebuah bunga yang indah sekali, namun sayang sekali bunga itu ada disebuah jurang yang berbatu terjal, akhirnya tim peneliti ini mencari seorang yang mau turun untuk mengambil bunga itu, ketika bertemu seorang anak kecil salah seorang dari tim itu menawarkan uang $10 jika anak itu mau mengambil bunga itu untuk mereka, anak itu melihat bunga itu, dan setelah itu anak itu berkata “tunggu sebentar” dan ketika kembali anak itu membawa seorang yang sudah agak sedikit tua, dan anak itu berkata “saya mau turun mengambil bunga itu untuk anda jika bapak ini yang memegang tali, dia adalah bapak saya” seharusnya seperti itulah kepercayaan kita kepada Tuhan. Kepercayaan seperti itulah yang akan membawa kita kepada ketergantungan yang sungguh kepada Allah Bapa kita.
Keluaran 14:1-15
Bangsa Israel telah dituntun oleh Tuhan untuk keluar dari tanah Mesir, dan Tuhan juga telah melepaskan dari perbudakan yang menekan mereka selama ada di Mesir, namun ternyata perjalanan tidak semulus yang mereka bayangkan, perjalanan kepada negeri perjanjian tidak seindah yang mereka inginkan. ( Kel. 14:2 ) disana menuliskan Tuhan menyuruh mereka untuk kembali lagi dan berkemah ditepi laut, suatu hal yang sulit dan ketika para tentara Israel mengejar mereka, apa yang dapat mereka buat ? didepan mereka laut yang luas, dibelakang mereka ada pedang Firaun yang siap untuk meenghancurkan mereka, dan disekeliling mereka adalah gunung-gunung yang tinggi mengelilingi mereka lantas apa yang dapat mereka lakukan ( kel. 14:11-12 ), namun ketika mereka ada didalam keadaan seperti itu, hanya satu yang Tuhan perintahkan kepada mereka yaitu “maju”
Mungkin kita pernah mengalami hal yang sama namun tidak serupa artinya ada masa-masa atau keadaan dimana kita merasa tidak bisa berbuat apa-apa, ada pergumulan yang berat didepankita, ada bahaya besar yang ada dibelakang kita sedangkan gunung-gunung ada disekitar kita, atau mungkin itu terjadi dalam pelayanan kita saat ini, ketika kita melihat kedepan sepertinya tidak ada kemungkinan untuk maju, kalau kita melihat kebelakang sepertinya dikejar oleh tuntutan-tuntutan, apalagi melihat sekeliling kita ada banyak gunung-gunung yang tinggi, namun satu perintah yang sama Tuhan juga berikan buat kita semua yaitu “berangkat”, “maju”, inilah sesuatu yang tidak mudah kita kerjakan dalam kondisi yang mungkin seperti dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu. Lantas apa yang kita perbuat ?
Mungkin, kalau kita melihat dan mengumpamakan diri kita bangsa Israel pada waktu itu pasti ada sesuatu ketidak percayaan yang ada dalam pikiran kita, kemustahilan dalam pikiran kita, atau sungut-sungut yang keluar dari lidah bibir kita. Itulah yang mungkin terjadi, namun Tuhan ingin ketika ketidakpercayaan itu mendatangi kita Tuhan menginginkan kita untuk mempercayai-Nya, ketika kemustahilan itu ada dalam pikiran kita, Tuhan mengingkan kita untuk berserah kepada-Nya, dan ketika muncul sungut-sungut dari lidah bibir kita maka disaat itulah Tuhan mengajar kita untuk bersyukur kepada-Nya. Jika dalam pelayanan kita sekarang kita mengalami kondisi yang seperti ini mari kita mulai mempercayakan pelayanan kita kepada Tuhan, karena pelayanan ini adalah milik-Nya, bukan milik kita kita hanya sebagai alat-Nya, ada sebuah kisah yang menggambarkan tentang rasa percaya ini. Di Afrika ada sebuah tim botanical yang sedang meneliti berbagai macam tumbuh-tumbuhan, dan juga bunga-bunga, ketika disuatu tempat mereka melihat ada sebuah bunga yang indah sekali, namun sayang sekali bunga itu ada disebuah jurang yang berbatu terjal, akhirnya tim peneliti ini mencari seorang yang mau turun untuk mengambil bunga itu, ketika bertemu seorang anak kecil salah seorang dari tim itu menawarkan uang $10 jika anak itu mau mengambil bunga itu untuk mereka, anak itu melihat bunga itu, dan setelah itu anak itu berkata “tunggu sebentar” dan ketika kembali anak itu membawa seorang yang sudah agak sedikit tua, dan anak itu berkata “saya mau turun mengambil bunga itu untuk anda jika bapak ini yang memegang tali, dia adalah bapak saya” seharusnya seperti itulah kepercayaan kita kepada Tuhan. Kepercayaan seperti itulah yang akan membawa kita kepada ketergantungan yang sungguh kepada Allah Bapa kita.
Langganan:
Postingan (Atom)