Menyembah dan Bekerja
Banyak orang mengira bahwa keinginan Allah yang terbesar adalah memperoleh "pekerja-pekerja". Ini tidaklah benar. Yesus dengan jelas mengatakan pada murid-muridNya bahwa Allah Bapa sedang mencari "penyembah-penyembah" —mereka yang akan menyembahNya dalam Roh dan Kebenaran (Yoh 4 23).
Panggilan kita yang terbesar dan tertinggi adalah untuk menyembah Tuhan—sebelum melakukan segala sesuatu. Jika kita melakukannya, Allah tidak akan mengalami kekurangan pekerja. Penyembah-penyembah yang benar selalu menjadipekerja-pekerja yang benar. Kasih yang sejati selalu berusaha untuk menyenangkan dan melaksanakan kehendak dari orang yang dikasihinya!
Kebenaran ini tampak dengan jelas dalam kisah yang sangat kita kenal yaitu tentang Maria dan Martha (Luk 10:38-42). Martha sedang berada di dapur bekerja dan penuh rasa kekhawatiran. Maria berada di bawah kaki Yesus menyembah dan belajar untuk mendengar. Yesus berkata bahwa bagian Maria adalah yang paling penting, dan hal itu tidak akan diambil daripadanya.
Orang-orang Kristen bukan terutama "diselamatkan untuk melayani", tapi "dipanggil untuk menyembah". Tuhan menginginkan agar penyembahan itu menjadi pertama—sebelum segala sesuatu. Jika kita tidak masuk dalam pelayanan pada Tuhan, kita tidak akan pernah memiliki pelayanan yang efektif bagi sesama ataubagi dunia.
1. Gereja Di Antiokia
Gereja di Antiokia menunjukkan bahwa penyembahan harus ditempatkan sebagai hal penting yang pertama—bahkan sebelum kebaktian. Gereja ini adalah gereja yang "bekerja", tapi sebelum melakukan pekerjaannya lebih dahulu ada penyembahan.
Apa yang dilakukan gereja itu sebelum Paulus dan Barnabas dipilih oleh Roh dan diutus keluar sebagai "para pekerja" untuk misi di ladang-ladang Allah? Mereka menyembah Allah!
"Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka’"(Kis 13:2).
Sangatlah menarik untuk dicatat bahwa Kisah Rasul 13:1 mengatakan pada kita bahwa ada nabi-nabi dan guru-guru dalam gereja. Jelasnya, prioritas pelayanan mereka bukan bernubuat atau mengajar, tapi menyembah. Setiap orang menyembah melayani Tuhan. Dari pelayanan penyembahan mengalir nubuatan Allah tentang pekerjaan yang harus dilakukan.
Tingkatan atau tahap-tahap itu jelasnya dalam susunan seperti ini:
a. Penyembahan: Pertama, ada "penyembahan" bagi Tuhan
b. Firman: Kedua, ada "Firman" dari Tuhan
c. Pekerjaan: Ketiga, ada "pekerjaan" bagi Tuhan
Pelayanan pada dunia mengikuti pelayanan pada Tuhan.
2. Tidak Ada Penyembahan—Tidak Ada Hujan!
Prioritas ilahi untuk menyembah ini dapat dilihat dalam kata-kata nubuatan yang keluar dari mulut Zakharia: "Tetapi bila mereka dari kaum-kaum di bumi tidak datang ke Yerusalem untuk sujud menyembah kepada Raja, Tuhan semesta alam, makakepada mereka tidak akan turun hujan" (Za 14:7).
Prinsipnya sudah jelas: tidak ada penyembahan, tidak ada hujan! Kegiatan tanpa penyembahan akan menghasilkan sedikit tuaian—tidak peduli bagaimana kerasnya kita bekerja. Mengapa? Dibutuhkan hujan Roh Allah untuk menghasilkan tuaian. Tanpa penyembahan, kita tidak akan memperoleh hujan. Jika kita tidak memiliki waktu untuk menyembah, jam kerja kita akan hanya menghasilkan buah yang sedikit.Perintah ilahi Allah adalah untuk menyembah lalu bekerja. Pelayanan pada Tuhan menghasilkan berkat-berkat dari RohNya atas usaha kita. Tuhan jauh lebih Ada beberapa halangan tertentu untuk memuji, namun Allah menginginkan agar kita dapat memenangkan semua halangan-halangan itu. Dia tidak mau menerima halangan apapun yang kita kemukakan sebagai alasan untuk tidak memuji Dia.
1. Dosa
Dosa adalah halangan yang pertama untuk memuji. Ini adalah alasan dasar mengapa orang-orang yang belum bertobat tidak memuji Allah. Ini juga merupakan satu alasan mengapa beberapa orang Kristen juga tidak mau memuji Allah.
Dosa yang belum diakui menghalang-halangi kita di dalam hadirat Allah. Apabila kita menyadari adanya dosa yang belum diampuni dalam hidup kita, kita tak akan merasa bebas atau merasa tenang didalam hadirat Allah.
Daud berkata, "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, [ Apabila aku menyadari ada dosa di dalam hidupku], tentulah Tuhan tidak mau mendengar" (Mzm 66:18). Dosa dan kesalahan akan memisahkan kita dari Allah, (Yes 59:2) dan kita akan kehilangan persekutuan yang dulu pernah kita nikmati.
Adanya dosa dalam hidup kita akan mengikat lidah kita di hadapan Tuhan. Hal yang dapat kita bicarakan dengan bebas pada Dia dalam situasi seperti ini adalah dosa-dosa kita.
Jawaban yang jelas dari halangan ini ialah: Akuilah dosa-dosa itu pada Allah dan terimalah dengan sungguh-sungguh pengampunanNya dan penyucianNya sehingga hubungan kita dengan Allah dapat dipulihkan, dan pujian itu dapat mengalir dari diri kita (1Yoh 1:9)
2. Hukuman (Penuduhan)
Sekalipun kita telah diampuni oleh Tuhan, tidak selalu mudah untuk mengampuni diri kita sendiri. Banyak orang Kristen tetap tinggal di dalam perasaan bersalah dan tertuduh. Walaupun Allah dengan bebasnya mengampuni mereka, mereka tidak dapat mengampuni diri mereka sendiri.
Ini yang mengakibatkan suatu perasaan tidak berharga. Dan kebebasan untuk menyembah itu sepertinya terhambat. Mereka cenderung untuk "menundukkan kepalanya" di dalam hadirat Allah. Hadirat Allah cenderung membuat mereka merasa lebih tidak layak. Mereka tidak dapat merasa yakin akan kemurahan dan kasih karunia Allah yang telah diberikan kepada mereka. Sikap seperti ini seringkali datang karena kesadaran akan dirinya sendiri lebih besar dari kesadaran akan Allah. Apabila kita terus menerus menyelidiki hati kita dengan sikap yang negatif dan selalu mencari kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan kita, kita akan selalu menemukannya. Tidak seorang pun yang sempurna.
Inspeksi diri atau memeriksa diri sendiri yang keterlaluan ini pun tidak sehat. Perhatian itu selalu tertuju pada diri sendiri, bukan pada Yesus.
Alkitab menasehatkan kita untuk "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan" (Ibr 12:2). Dan hal ini paling sedikit akan menyelesaikan dua hal:
Pertama, menghilangkan pemikiran-pemikiran dan perhatian pada diri kita sendiri dan mulai memandang Yesus. Yang kedua, makin kita melihat dan memikirkan Yesus, merenungkan tentang Dia, memenuhi segenap pikiran kita dengan Dia, maka makin kita mempunyai kerinduan untuk memuji Dia. Beginilah bagaimana pujian itu dimulai dengan memandang pada Yesus. Pujian dan penghargaan kita pada Dia akan makin bertambah pada saat kita melakukan ini. Kesadaran kita akan betapa layaknya Dia itu akan bertambah, dan ini akan meningkatkan pemikiran-pemikiran kita di dalam pujian dan penyembahan padaNya.
29 Mei 2009
PRIORITAS DOA
Matius 6:10
PENDAHULUAN
Mekilta adalah sebuah manuskrip kuno yang memuat tafsiran tentang hampir seluruh buku keluaran. Didalamnya juga terdapat perumpamaan berikut. Ada seorang pria yang datang kesbuah propinsi dan bertanya kepada penduduk kota itu kalau-kalau ia boleh memerintah mereka. Rakyat itu berkata “kebaikan apakah yang telah anda kerjakan bagi kami? Mengapa kami harus menjadi bawahan anda? Sebagai tanggapan itu maka pria tadi membangun sebuah tembok kota, ia mengalirkan air ke propinsi itu dan ia juga berperang bagi mereka. Kemudia ia mengajukan pertanyaan kepada rakyat itu bolehkan aku memerintah kalian, maka jawab mereka ya tentu saja tentu saja. Perumpamaan itu masih berlanjut, demikianlah Allah yang kita sembah Dia telah menebus kita dari Dosa, menyediakan segala kebutuhan kita yang berperang bagi kita, kalau sekarang Allah bertanya kepada kita bolehkan Aku memerintah atasmu? Apakah jawab kita ya! Pasti tentu saja itulah jawaban kita. Namun seringkali dalam penerapan kehidupan kita hal itu jarang terjadi, bahkan kita menggantikan tempat dimana seharusnya Allah bertahta dengan keegoisan kita, keakuan kita.
Datanglah kerajaanMU dan jadilah kehendakMu, dalam bahasa Yunani pun diletakan diawal kalimat hal ini mengartikan bahwa kefuaa kata menunjukan kemantapan dan ketegasan dalam melakukan segala sesuatu.
Setiap hari kita merindukan supaya kehendakNya jadi itu sebabnya mari kita bersikap tegas dalam berdoa, jangan lagi memanjatkan doa yang merengek-rengek, “ o.. Yesus tolonglah aku” mulailah dengan berani menyatakan janji-janji Allah, berdiri teguh didalam kemenangan yang telah diraih Kristus bagi kita
Kita mengingikan prioritas Allah diteguhkan dalam kehidupan kita, tapi sayang kita sering mengizinkan banyak hal kecil yang membawa kepada kekuatiran dan masalaah yang menghimpit hal-hal yang penting yang seharusnya diberi prioritas yang utama. Banyak hal yang mendesak mengalahkan hal yang penting. ( contoh lubang kancing baju ) kehidupan kita seperti itu kalau Allah tidak menjadi prioritas yang utama maka tidak ada hal yang lurus, dan rapi sebagaimana yang seharusnya, kesehataan, emosi, tujuan dan hubungan kita akan menjadi terganggu.
Mengatur prioritas waktu kita memang penting, namun setelah itu kita juga harus membuat prioritas dari doa kita. Pada waktu kita berdoa kita harus menyatakan agar kerajaan Allah datang dan kehendakNya jadi dalam keempat hal dalam hidup kita.
1. DIRI ANDA SENDIRI
Mulailah dengan diri kita sendiri ( Yak 5:16 )
Anda memerlukan hikmat untuk dapat mengelola kegiatan anda hari demi hari, undanglah Yesus untuk menduduki tampat yang menjadi hakNya dan memerintah atas seluruh hidup anda kemudian doakanlah kegiatan anda sepanjang hari itu, sebab kalau Yesus bukan Tuhan didalam diri Anda maka Ia tidak akan menjadi Tuhan dalam prioritas yang kedua.
2. KELUARGA ANDA
Bagi kita yang sudah menikah doakanlah pasangan hidup anda, berdoa agar kebenaran sukacita dan damaai sejahtera memerintah atasnya, doakaanlah kebutuhan pasangan hidup dan juga untuk anak-anak kita hal ini penting mengapa? Sebab kalau kita gagal dalam keluarga maka pekerjaan kita untuk rumah Allah juga akan terhalang.
3. GEREJA
Fakta yang tidak dapat disangkal, bahwa sebagai orang percaya anda dan saya adalah bala tentara Allah dan kita sedang menghadapi peperangan sudah saatnya kita menyadari bahwa tentara Allah dibentuk untuk berperang. Allah telah memanggil kita untuk menjadi pahlawan untuk menjadi pasukan yang yang penuh dengan kuasa dan pengurapan, ( I tim 6:12 ) “berjuanglah…” bukan kalau kamu mau…” karena itu doakanlah Gembalaa. Pemimpin, kesetiaan jemaat, dan juga tuaian.
4. BANGSA DAN NEGARA
Doakanlah bangsa dan Negara kita khusunya para pemimpin kita supaya mereka diberi hikmat oleh Tuhan dalam memipin bangsa ini, minta supaya Tuhan juga memperluas belas kasihan kita, dan minta supaya kerajaanNya datang dan kehendakNYa jadi bagi bangsa.
Matius 6:10
PENDAHULUAN
Mekilta adalah sebuah manuskrip kuno yang memuat tafsiran tentang hampir seluruh buku keluaran. Didalamnya juga terdapat perumpamaan berikut. Ada seorang pria yang datang kesbuah propinsi dan bertanya kepada penduduk kota itu kalau-kalau ia boleh memerintah mereka. Rakyat itu berkata “kebaikan apakah yang telah anda kerjakan bagi kami? Mengapa kami harus menjadi bawahan anda? Sebagai tanggapan itu maka pria tadi membangun sebuah tembok kota, ia mengalirkan air ke propinsi itu dan ia juga berperang bagi mereka. Kemudia ia mengajukan pertanyaan kepada rakyat itu bolehkan aku memerintah kalian, maka jawab mereka ya tentu saja tentu saja. Perumpamaan itu masih berlanjut, demikianlah Allah yang kita sembah Dia telah menebus kita dari Dosa, menyediakan segala kebutuhan kita yang berperang bagi kita, kalau sekarang Allah bertanya kepada kita bolehkan Aku memerintah atasmu? Apakah jawab kita ya! Pasti tentu saja itulah jawaban kita. Namun seringkali dalam penerapan kehidupan kita hal itu jarang terjadi, bahkan kita menggantikan tempat dimana seharusnya Allah bertahta dengan keegoisan kita, keakuan kita.
Datanglah kerajaanMU dan jadilah kehendakMu, dalam bahasa Yunani pun diletakan diawal kalimat hal ini mengartikan bahwa kefuaa kata menunjukan kemantapan dan ketegasan dalam melakukan segala sesuatu.
Setiap hari kita merindukan supaya kehendakNya jadi itu sebabnya mari kita bersikap tegas dalam berdoa, jangan lagi memanjatkan doa yang merengek-rengek, “ o.. Yesus tolonglah aku” mulailah dengan berani menyatakan janji-janji Allah, berdiri teguh didalam kemenangan yang telah diraih Kristus bagi kita
Kita mengingikan prioritas Allah diteguhkan dalam kehidupan kita, tapi sayang kita sering mengizinkan banyak hal kecil yang membawa kepada kekuatiran dan masalaah yang menghimpit hal-hal yang penting yang seharusnya diberi prioritas yang utama. Banyak hal yang mendesak mengalahkan hal yang penting. ( contoh lubang kancing baju ) kehidupan kita seperti itu kalau Allah tidak menjadi prioritas yang utama maka tidak ada hal yang lurus, dan rapi sebagaimana yang seharusnya, kesehataan, emosi, tujuan dan hubungan kita akan menjadi terganggu.
Mengatur prioritas waktu kita memang penting, namun setelah itu kita juga harus membuat prioritas dari doa kita. Pada waktu kita berdoa kita harus menyatakan agar kerajaan Allah datang dan kehendakNya jadi dalam keempat hal dalam hidup kita.
1. DIRI ANDA SENDIRI
Mulailah dengan diri kita sendiri ( Yak 5:16 )
Anda memerlukan hikmat untuk dapat mengelola kegiatan anda hari demi hari, undanglah Yesus untuk menduduki tampat yang menjadi hakNya dan memerintah atas seluruh hidup anda kemudian doakanlah kegiatan anda sepanjang hari itu, sebab kalau Yesus bukan Tuhan didalam diri Anda maka Ia tidak akan menjadi Tuhan dalam prioritas yang kedua.
2. KELUARGA ANDA
Bagi kita yang sudah menikah doakanlah pasangan hidup anda, berdoa agar kebenaran sukacita dan damaai sejahtera memerintah atasnya, doakaanlah kebutuhan pasangan hidup dan juga untuk anak-anak kita hal ini penting mengapa? Sebab kalau kita gagal dalam keluarga maka pekerjaan kita untuk rumah Allah juga akan terhalang.
3. GEREJA
Fakta yang tidak dapat disangkal, bahwa sebagai orang percaya anda dan saya adalah bala tentara Allah dan kita sedang menghadapi peperangan sudah saatnya kita menyadari bahwa tentara Allah dibentuk untuk berperang. Allah telah memanggil kita untuk menjadi pahlawan untuk menjadi pasukan yang yang penuh dengan kuasa dan pengurapan, ( I tim 6:12 ) “berjuanglah…” bukan kalau kamu mau…” karena itu doakanlah Gembalaa. Pemimpin, kesetiaan jemaat, dan juga tuaian.
4. BANGSA DAN NEGARA
Doakanlah bangsa dan Negara kita khusunya para pemimpin kita supaya mereka diberi hikmat oleh Tuhan dalam memipin bangsa ini, minta supaya Tuhan juga memperluas belas kasihan kita, dan minta supaya kerajaanNya datang dan kehendakNYa jadi bagi bangsa.
MAJU BERSAMA ALLAH
Keluaran 14:1-15
Bangsa Israel telah dituntun oleh Tuhan untuk keluar dari tanah Mesir, dan Tuhan juga telah melepaskan dari perbudakan yang menekan mereka selama ada di Mesir, namun ternyata perjalanan tidak semulus yang mereka bayangkan, perjalanan kepada negeri perjanjian tidak seindah yang mereka inginkan. ( Kel. 14:2 ) disana menuliskan Tuhan menyuruh mereka untuk kembali lagi dan berkemah ditepi laut, suatu hal yang sulit dan ketika para tentara Israel mengejar mereka, apa yang dapat mereka buat ? didepan mereka laut yang luas, dibelakang mereka ada pedang Firaun yang siap untuk meenghancurkan mereka, dan disekeliling mereka adalah gunung-gunung yang tinggi mengelilingi mereka lantas apa yang dapat mereka lakukan ( kel. 14:11-12 ), namun ketika mereka ada didalam keadaan seperti itu, hanya satu yang Tuhan perintahkan kepada mereka yaitu “maju”
Mungkin kita pernah mengalami hal yang sama namun tidak serupa artinya ada masa-masa atau keadaan dimana kita merasa tidak bisa berbuat apa-apa, ada pergumulan yang berat didepankita, ada bahaya besar yang ada dibelakang kita sedangkan gunung-gunung ada disekitar kita, atau mungkin itu terjadi dalam pelayanan kita saat ini, ketika kita melihat kedepan sepertinya tidak ada kemungkinan untuk maju, kalau kita melihat kebelakang sepertinya dikejar oleh tuntutan-tuntutan, apalagi melihat sekeliling kita ada banyak gunung-gunung yang tinggi, namun satu perintah yang sama Tuhan juga berikan buat kita semua yaitu “berangkat”, “maju”, inilah sesuatu yang tidak mudah kita kerjakan dalam kondisi yang mungkin seperti dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu. Lantas apa yang kita perbuat ?
Mungkin, kalau kita melihat dan mengumpamakan diri kita bangsa Israel pada waktu itu pasti ada sesuatu ketidak percayaan yang ada dalam pikiran kita, kemustahilan dalam pikiran kita, atau sungut-sungut yang keluar dari lidah bibir kita. Itulah yang mungkin terjadi, namun Tuhan ingin ketika ketidakpercayaan itu mendatangi kita Tuhan menginginkan kita untuk mempercayai-Nya, ketika kemustahilan itu ada dalam pikiran kita, Tuhan mengingkan kita untuk berserah kepada-Nya, dan ketika muncul sungut-sungut dari lidah bibir kita maka disaat itulah Tuhan mengajar kita untuk bersyukur kepada-Nya. Jika dalam pelayanan kita sekarang kita mengalami kondisi yang seperti ini mari kita mulai mempercayakan pelayanan kita kepada Tuhan, karena pelayanan ini adalah milik-Nya, bukan milik kita kita hanya sebagai alat-Nya, ada sebuah kisah yang menggambarkan tentang rasa percaya ini. Di Afrika ada sebuah tim botanical yang sedang meneliti berbagai macam tumbuh-tumbuhan, dan juga bunga-bunga, ketika disuatu tempat mereka melihat ada sebuah bunga yang indah sekali, namun sayang sekali bunga itu ada disebuah jurang yang berbatu terjal, akhirnya tim peneliti ini mencari seorang yang mau turun untuk mengambil bunga itu, ketika bertemu seorang anak kecil salah seorang dari tim itu menawarkan uang $10 jika anak itu mau mengambil bunga itu untuk mereka, anak itu melihat bunga itu, dan setelah itu anak itu berkata “tunggu sebentar” dan ketika kembali anak itu membawa seorang yang sudah agak sedikit tua, dan anak itu berkata “saya mau turun mengambil bunga itu untuk anda jika bapak ini yang memegang tali, dia adalah bapak saya” seharusnya seperti itulah kepercayaan kita kepada Tuhan. Kepercayaan seperti itulah yang akan membawa kita kepada ketergantungan yang sungguh kepada Allah Bapa kita.
Keluaran 14:1-15
Bangsa Israel telah dituntun oleh Tuhan untuk keluar dari tanah Mesir, dan Tuhan juga telah melepaskan dari perbudakan yang menekan mereka selama ada di Mesir, namun ternyata perjalanan tidak semulus yang mereka bayangkan, perjalanan kepada negeri perjanjian tidak seindah yang mereka inginkan. ( Kel. 14:2 ) disana menuliskan Tuhan menyuruh mereka untuk kembali lagi dan berkemah ditepi laut, suatu hal yang sulit dan ketika para tentara Israel mengejar mereka, apa yang dapat mereka buat ? didepan mereka laut yang luas, dibelakang mereka ada pedang Firaun yang siap untuk meenghancurkan mereka, dan disekeliling mereka adalah gunung-gunung yang tinggi mengelilingi mereka lantas apa yang dapat mereka lakukan ( kel. 14:11-12 ), namun ketika mereka ada didalam keadaan seperti itu, hanya satu yang Tuhan perintahkan kepada mereka yaitu “maju”
Mungkin kita pernah mengalami hal yang sama namun tidak serupa artinya ada masa-masa atau keadaan dimana kita merasa tidak bisa berbuat apa-apa, ada pergumulan yang berat didepankita, ada bahaya besar yang ada dibelakang kita sedangkan gunung-gunung ada disekitar kita, atau mungkin itu terjadi dalam pelayanan kita saat ini, ketika kita melihat kedepan sepertinya tidak ada kemungkinan untuk maju, kalau kita melihat kebelakang sepertinya dikejar oleh tuntutan-tuntutan, apalagi melihat sekeliling kita ada banyak gunung-gunung yang tinggi, namun satu perintah yang sama Tuhan juga berikan buat kita semua yaitu “berangkat”, “maju”, inilah sesuatu yang tidak mudah kita kerjakan dalam kondisi yang mungkin seperti dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu. Lantas apa yang kita perbuat ?
Mungkin, kalau kita melihat dan mengumpamakan diri kita bangsa Israel pada waktu itu pasti ada sesuatu ketidak percayaan yang ada dalam pikiran kita, kemustahilan dalam pikiran kita, atau sungut-sungut yang keluar dari lidah bibir kita. Itulah yang mungkin terjadi, namun Tuhan ingin ketika ketidakpercayaan itu mendatangi kita Tuhan menginginkan kita untuk mempercayai-Nya, ketika kemustahilan itu ada dalam pikiran kita, Tuhan mengingkan kita untuk berserah kepada-Nya, dan ketika muncul sungut-sungut dari lidah bibir kita maka disaat itulah Tuhan mengajar kita untuk bersyukur kepada-Nya. Jika dalam pelayanan kita sekarang kita mengalami kondisi yang seperti ini mari kita mulai mempercayakan pelayanan kita kepada Tuhan, karena pelayanan ini adalah milik-Nya, bukan milik kita kita hanya sebagai alat-Nya, ada sebuah kisah yang menggambarkan tentang rasa percaya ini. Di Afrika ada sebuah tim botanical yang sedang meneliti berbagai macam tumbuh-tumbuhan, dan juga bunga-bunga, ketika disuatu tempat mereka melihat ada sebuah bunga yang indah sekali, namun sayang sekali bunga itu ada disebuah jurang yang berbatu terjal, akhirnya tim peneliti ini mencari seorang yang mau turun untuk mengambil bunga itu, ketika bertemu seorang anak kecil salah seorang dari tim itu menawarkan uang $10 jika anak itu mau mengambil bunga itu untuk mereka, anak itu melihat bunga itu, dan setelah itu anak itu berkata “tunggu sebentar” dan ketika kembali anak itu membawa seorang yang sudah agak sedikit tua, dan anak itu berkata “saya mau turun mengambil bunga itu untuk anda jika bapak ini yang memegang tali, dia adalah bapak saya” seharusnya seperti itulah kepercayaan kita kepada Tuhan. Kepercayaan seperti itulah yang akan membawa kita kepada ketergantungan yang sungguh kepada Allah Bapa kita.
DOA
( Yoh. 11 )
Doa merupakan komunikasi dengan Bapa kita, komunikasi itu harusnya tidak boleh putus kapanpun dan dimanapun kita berada, karena kalau terputus maka akan terjadi banyak kesalahpaham contohnya jika kita punya teman terus kita tidak pernah komunikasi maka kita tidak akan tahu apa yang terjadi dan apa yang menjadi kesibukannya, kalau kita dalam organisasi dan kita tidak pernah komunikasi maka akan banyak terjadi hal-hal yang tidak kita harapkan kesalahpahaman pasti akan terjadi, kesatuan juga tidak akan tercapai, begitu juga dengan hubungan kita dengan Bapa disurga kalau kita tidaak pernah berkomunikasi maka kita akan sering kali mengalami kesalapahaman dengan Tuhan.
Dalam berkomunikasipun tidak semua memerlukan tanggapan, atau harus direspon oleh orang yang kita ajak dalam berkomunikasi hal itu diakibatkan berapa lama kita kenal orang itu, dan berapa dekat kita dengan dia, hal inilah yang menentukan kualitas kita dalam komunikasi. Bukan pandainya kita berbicara, indahnya kata-kata kita, atau hal lain yang menyangkut etika, memang etika sangat penting dalam kita menjalin komunikasi, namun hal yang paling penting dalam kita berkomunikasi adalah relasi. Begitu juga dengan doa-doa kita kepada Bapa, bukan ditentukan kata-kata yang bagus, indahnya doa kita, atau lamanya kita berdoa.
Contoh, seseorang yang sudah kenal lama sama seseorang maka ia tidak aka terlalu sulit untuk mengatakan sesuatu walau hanya dengan sebuah kata, atau kata yang pendek dan temannya itu pasti akan mengerti apa maunya, sepasang suami istri tidak akan berkomunikasi berlama-lamaan karena itu akan mengganggu aktivitas yang lain namun mereka akan selalu berkomunikasi dan memang ada saat-saat tertentu mereka membutuhkan sharing, curhat untuk waktu yang lama berbagi rasa, dan apapun namanya tetapi itu tidak setiap hari khan ? namun meraka selalu berkomunikasi apa yang mendasari mereka akan hal itu pengenalan akan mereka yang dalam satu dengan yang lain oleh karena itu betapa pentingnya pengenalan kita yang dalam terhadap Allah kita yaitu Yesus Kristus ( Fil. 3:10 )
Maria dan Marta dalam perikop ini merupakan gambaran 2 pribadi dihadapan Tuhan yang Tuhan mau ajarkan kepada kita, persamaan ada dalam hidup mereka namun perbedaan juga ada dalam diri mereka, apa yang menjadi kesamaan ?
Kesamaannya adalah sama-sama mengenal Tuhan, sama-sama mencari Tuhan, sama-sama melayani Tuhan, luar biasa bukan ?! sesuatu yang saat ini sedang kita kejar atau mungkin sedang kita jalani, namun ada perbedaan yaitu dalam hal keintiman, kedekatan dalam Tuhan, dan hal inilah yang sebenarnya bisa menentukan dan merubah masa depan. Cobalah lihat apa yang dikatakan antara Marta dan Maria kepada Yesus perihal Lazarus yang sudah meninggal dalam beberapa hari itu ? dalam hal ini ironi sekali kalau kita mensikapi sikap Marta adalah menyalahkan Tuhan, dan Tuhan yang menyebabkan semua ini terjadi, andaikata Tuhan ada disini pasti tidak akan terjadi semua ini, itulah yang dikatakannya, berapa banyak dalam doa kita mengatakan hal yang serupa dengan apa yang dikatakan oleh Marta ? kita menyalahkan Tuhan, dan Tuhan yang membuat semua ini terjadi ? bagaimana sikap Tuhan terhadap Marta yang memiliki pribadi demikian ? Dia meluruskan dan membenahi kepribadian Marta, memberikan bimbingan kepada Marta supaya Marta tidak mengalami kekecewaan dan keputusasaan itulah yang dilakukan Yesus, sehingga kalau kita lihat tidak meresponi apa yang diingini oleh Marta. Berbeda dengan Maria, kalau kita lihat tidak berbeda apa yang dikatakan Maria dan Marta ini namun dalam kenyataannya kita bisa melihat perbedaan yang ditimbulkan oleh respon dari Yesus sendiri yang menanggapi perkataan Maria. Mengapa Yesus menanggapi perkataan maria ? karena hal itu lahir dari keintiman.
So doa yang lahir dari keintiman sanggup menggerakan hati Tuhan.
Sekarang bagaimana kamu berdoa ? adakah itu suatu kebiasaan ? ataukah itu hanya sebuah kewajiban ? ataukah itu kamu berdoa hanya karena tidak ingin dicela sebagai anak Tuhan ? atau juga munkin kamu berdoa karena kedudukanmu dalam organisasi rohani ? gereja ? atau persekutuan ? atau juga kamu berdoa untuk memperlihatkan bahwa kamu adalah orang yang pandai berdoa ? so intropeksi diri kamu…yang Tuhan mau adalah kamu berdoa karena intim sama Tuhan karena doa seperti itulah yang sanggup menggerakaan hati Tuhan bertindak.
( Yoh. 11 )
Doa merupakan komunikasi dengan Bapa kita, komunikasi itu harusnya tidak boleh putus kapanpun dan dimanapun kita berada, karena kalau terputus maka akan terjadi banyak kesalahpaham contohnya jika kita punya teman terus kita tidak pernah komunikasi maka kita tidak akan tahu apa yang terjadi dan apa yang menjadi kesibukannya, kalau kita dalam organisasi dan kita tidak pernah komunikasi maka akan banyak terjadi hal-hal yang tidak kita harapkan kesalahpahaman pasti akan terjadi, kesatuan juga tidak akan tercapai, begitu juga dengan hubungan kita dengan Bapa disurga kalau kita tidaak pernah berkomunikasi maka kita akan sering kali mengalami kesalapahaman dengan Tuhan.
Dalam berkomunikasipun tidak semua memerlukan tanggapan, atau harus direspon oleh orang yang kita ajak dalam berkomunikasi hal itu diakibatkan berapa lama kita kenal orang itu, dan berapa dekat kita dengan dia, hal inilah yang menentukan kualitas kita dalam komunikasi. Bukan pandainya kita berbicara, indahnya kata-kata kita, atau hal lain yang menyangkut etika, memang etika sangat penting dalam kita menjalin komunikasi, namun hal yang paling penting dalam kita berkomunikasi adalah relasi. Begitu juga dengan doa-doa kita kepada Bapa, bukan ditentukan kata-kata yang bagus, indahnya doa kita, atau lamanya kita berdoa.
Contoh, seseorang yang sudah kenal lama sama seseorang maka ia tidak aka terlalu sulit untuk mengatakan sesuatu walau hanya dengan sebuah kata, atau kata yang pendek dan temannya itu pasti akan mengerti apa maunya, sepasang suami istri tidak akan berkomunikasi berlama-lamaan karena itu akan mengganggu aktivitas yang lain namun mereka akan selalu berkomunikasi dan memang ada saat-saat tertentu mereka membutuhkan sharing, curhat untuk waktu yang lama berbagi rasa, dan apapun namanya tetapi itu tidak setiap hari khan ? namun meraka selalu berkomunikasi apa yang mendasari mereka akan hal itu pengenalan akan mereka yang dalam satu dengan yang lain oleh karena itu betapa pentingnya pengenalan kita yang dalam terhadap Allah kita yaitu Yesus Kristus ( Fil. 3:10 )
Maria dan Marta dalam perikop ini merupakan gambaran 2 pribadi dihadapan Tuhan yang Tuhan mau ajarkan kepada kita, persamaan ada dalam hidup mereka namun perbedaan juga ada dalam diri mereka, apa yang menjadi kesamaan ?
Kesamaannya adalah sama-sama mengenal Tuhan, sama-sama mencari Tuhan, sama-sama melayani Tuhan, luar biasa bukan ?! sesuatu yang saat ini sedang kita kejar atau mungkin sedang kita jalani, namun ada perbedaan yaitu dalam hal keintiman, kedekatan dalam Tuhan, dan hal inilah yang sebenarnya bisa menentukan dan merubah masa depan. Cobalah lihat apa yang dikatakan antara Marta dan Maria kepada Yesus perihal Lazarus yang sudah meninggal dalam beberapa hari itu ? dalam hal ini ironi sekali kalau kita mensikapi sikap Marta adalah menyalahkan Tuhan, dan Tuhan yang menyebabkan semua ini terjadi, andaikata Tuhan ada disini pasti tidak akan terjadi semua ini, itulah yang dikatakannya, berapa banyak dalam doa kita mengatakan hal yang serupa dengan apa yang dikatakan oleh Marta ? kita menyalahkan Tuhan, dan Tuhan yang membuat semua ini terjadi ? bagaimana sikap Tuhan terhadap Marta yang memiliki pribadi demikian ? Dia meluruskan dan membenahi kepribadian Marta, memberikan bimbingan kepada Marta supaya Marta tidak mengalami kekecewaan dan keputusasaan itulah yang dilakukan Yesus, sehingga kalau kita lihat tidak meresponi apa yang diingini oleh Marta. Berbeda dengan Maria, kalau kita lihat tidak berbeda apa yang dikatakan Maria dan Marta ini namun dalam kenyataannya kita bisa melihat perbedaan yang ditimbulkan oleh respon dari Yesus sendiri yang menanggapi perkataan Maria. Mengapa Yesus menanggapi perkataan maria ? karena hal itu lahir dari keintiman.
So doa yang lahir dari keintiman sanggup menggerakan hati Tuhan.
Sekarang bagaimana kamu berdoa ? adakah itu suatu kebiasaan ? ataukah itu hanya sebuah kewajiban ? ataukah itu kamu berdoa hanya karena tidak ingin dicela sebagai anak Tuhan ? atau juga munkin kamu berdoa karena kedudukanmu dalam organisasi rohani ? gereja ? atau persekutuan ? atau juga kamu berdoa untuk memperlihatkan bahwa kamu adalah orang yang pandai berdoa ? so intropeksi diri kamu…yang Tuhan mau adalah kamu berdoa karena intim sama Tuhan karena doa seperti itulah yang sanggup menggerakaan hati Tuhan bertindak.
19 Mei 2009
Jadilah Teladan
Tuhan Penjagaku
Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. 5 Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu
Mazmur 121:4-5
Mazmur ziarah kita hari ini berbicara mengenai jaminan keamanan hidup. Menurut mazmur ini, ada 2 kemungkinan yaitu :
1. Mazmur ini dinyanyikan ketika bangsa Israel berziarah tahunan ke Yerusalem. Ayat 1-2 merupakan pertanyaan para musafir, dan ayat 3-8 merupakan jawaban para imam.
2. Dinyanyikan ketika bangsa Israel pulang kembali ke tempatnya dari Yerusalem.
Keduanya menyiratkan keinginan untuk mendapatkan keamanan dan berkat, keselamatan Israel. Jika "gunung-gunung" yang dimaksud terletak di Yehuda maka hal tersebut menyimbolkan bahaya, misalnya, perampokan. Pertanyaannya adalah, "Dari mana pertolongan itu akan datang?" Dari Allah yang menciptakan langit dan bumi. "Gunung" mengingatkan kita akan bukit-bukit pengorbanan penyembahan berhala. Maka, bisa jadi ketika pemazmur memandang ke gunung-gunung, ia membandingkannya dengan Allah yang tak pernah tidur (bdk. 1Raj. 18:27).
Dari pernyataan diatas maka kita bisa mengambil 2 Pelajaran yang bisa memberikan kita kekuatan dalam menghadapi masa-masa yang sukar.
Yaitu :
Tuhan adalah satu-satunya sumber pertolongan kita ( Maz. 121:4)
Banyak orang kecewa karena mengharapkan pertolongan dari sesuatu yang dianggap “mampu” namun dalam kenyataannya semuanya meleset, dan itu akan terjadi jika anda berharap kepada manusia, instuisi, ataupun organisasi. Ingatlah bahwa sumber pertolongan yang sejati hanya ada di dalam Yesus Tuhan kita, saat semuanya tertutup sepertinya tidak ada pertolongan Yesus siap menolong anda, penolong yang tidak pernah tertidur dan terlelap namun berjaga-jaga atas hidup kita.
Tuhan adalah sumber keamanan kita (maz. 121:4-8)
Dalam keadaan bahaya, sangat dibutuhkan penjagaan ketat. Hal ini sangat terasa di sekitar kita yang saat ini banyak ketidakamanan dan ketidaknyamanan. Dalam lingkungan rumah kita, mungkin diberlakukan jadwal siskamling untuk menjaga keamanan. Harus diakui bahwa tak seorang pun mampu berjaga-jaga sepanjang hari tanpa istirahat. Kita berusaha memiliki tempat perlindungan yang senantiasa siaga, yakni Penjaga Israel, Allah kita. Ia bukan saja mampu bertahan menghadapi bahaya, namun secara aktif melindungi umat-Nya. Tak ada Penjaga lain yang sanggup berjaga-jaga seperti Dia.
Semua orang pasti menginginkan keamanan dalam hidupnya, bahkan tak jarang diantara kita melindungi segala sesuatu yang kita miliki supaya aman, bahkan ketika kita pergi sekalipun kita inginkan keamanan, hal ini menandakan bahwa ada rasa ketakutan dalam diri kita, namun jika kita tahu Pertolongan orang percaya hanya ada di dalam Yesus maka saya percaya ini yang menimbulkan keamanan, bahwa ada penolong yang sejati yang menjaga kita,melewati masa-masa yang suram, sukar, bahkan dalam lembah kekelaman sekalipun kita akan merasa tenang dan aman karena kita tahu bahwa pertolongan kita ada didalam Yesus Tuhan kita.
Dalam dunia yang penuh tantangan dan ancaman, kita memerlukan pertolongan sejati. Pemazmur menyadari ketiadaan pengharapan baik dari dirinya maupun orang lain. Ia mencoba mengarahkan pandangannya ke gunung-gunung, namun di sana pun ia tidak melihat secercah harapan. Akhirnya pemazmur menyadari dan menyatakan dengan tegas bahwa "pertolonganku ialah dari Tuhan". Ialah Pencipta yang Mahakuasa dan Penjaga yang tidak pernah terlelap.
"Keamanan" hanya ada di dalam pribadi Allah yang mengendalikan segala sesuatu. Bersandarlah kepada-Nya setiap waktu!
Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. 5 Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu
Mazmur 121:4-5
Mazmur ziarah kita hari ini berbicara mengenai jaminan keamanan hidup. Menurut mazmur ini, ada 2 kemungkinan yaitu :
1. Mazmur ini dinyanyikan ketika bangsa Israel berziarah tahunan ke Yerusalem. Ayat 1-2 merupakan pertanyaan para musafir, dan ayat 3-8 merupakan jawaban para imam.
2. Dinyanyikan ketika bangsa Israel pulang kembali ke tempatnya dari Yerusalem.
Keduanya menyiratkan keinginan untuk mendapatkan keamanan dan berkat, keselamatan Israel. Jika "gunung-gunung" yang dimaksud terletak di Yehuda maka hal tersebut menyimbolkan bahaya, misalnya, perampokan. Pertanyaannya adalah, "Dari mana pertolongan itu akan datang?" Dari Allah yang menciptakan langit dan bumi. "Gunung" mengingatkan kita akan bukit-bukit pengorbanan penyembahan berhala. Maka, bisa jadi ketika pemazmur memandang ke gunung-gunung, ia membandingkannya dengan Allah yang tak pernah tidur (bdk. 1Raj. 18:27).
Dari pernyataan diatas maka kita bisa mengambil 2 Pelajaran yang bisa memberikan kita kekuatan dalam menghadapi masa-masa yang sukar.
Yaitu :
Tuhan adalah satu-satunya sumber pertolongan kita ( Maz. 121:4)
Banyak orang kecewa karena mengharapkan pertolongan dari sesuatu yang dianggap “mampu” namun dalam kenyataannya semuanya meleset, dan itu akan terjadi jika anda berharap kepada manusia, instuisi, ataupun organisasi. Ingatlah bahwa sumber pertolongan yang sejati hanya ada di dalam Yesus Tuhan kita, saat semuanya tertutup sepertinya tidak ada pertolongan Yesus siap menolong anda, penolong yang tidak pernah tertidur dan terlelap namun berjaga-jaga atas hidup kita.
Tuhan adalah sumber keamanan kita (maz. 121:4-8)
Dalam keadaan bahaya, sangat dibutuhkan penjagaan ketat. Hal ini sangat terasa di sekitar kita yang saat ini banyak ketidakamanan dan ketidaknyamanan. Dalam lingkungan rumah kita, mungkin diberlakukan jadwal siskamling untuk menjaga keamanan. Harus diakui bahwa tak seorang pun mampu berjaga-jaga sepanjang hari tanpa istirahat. Kita berusaha memiliki tempat perlindungan yang senantiasa siaga, yakni Penjaga Israel, Allah kita. Ia bukan saja mampu bertahan menghadapi bahaya, namun secara aktif melindungi umat-Nya. Tak ada Penjaga lain yang sanggup berjaga-jaga seperti Dia.
Semua orang pasti menginginkan keamanan dalam hidupnya, bahkan tak jarang diantara kita melindungi segala sesuatu yang kita miliki supaya aman, bahkan ketika kita pergi sekalipun kita inginkan keamanan, hal ini menandakan bahwa ada rasa ketakutan dalam diri kita, namun jika kita tahu Pertolongan orang percaya hanya ada di dalam Yesus maka saya percaya ini yang menimbulkan keamanan, bahwa ada penolong yang sejati yang menjaga kita,melewati masa-masa yang suram, sukar, bahkan dalam lembah kekelaman sekalipun kita akan merasa tenang dan aman karena kita tahu bahwa pertolongan kita ada didalam Yesus Tuhan kita.
Dalam dunia yang penuh tantangan dan ancaman, kita memerlukan pertolongan sejati. Pemazmur menyadari ketiadaan pengharapan baik dari dirinya maupun orang lain. Ia mencoba mengarahkan pandangannya ke gunung-gunung, namun di sana pun ia tidak melihat secercah harapan. Akhirnya pemazmur menyadari dan menyatakan dengan tegas bahwa "pertolonganku ialah dari Tuhan". Ialah Pencipta yang Mahakuasa dan Penjaga yang tidak pernah terlelap.
"Keamanan" hanya ada di dalam pribadi Allah yang mengendalikan segala sesuatu. Bersandarlah kepada-Nya setiap waktu!
Tegar dimasa sukar
TAK PERNAH MENYERAH
Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!"
(Bilangan 13:30)
Segala sesuatu dapat terjadi, bahkan apa yang tidak pernah kita bayangkan juga dapat terjadi. Bangsa Israel yang sudah di ambang tanah perjanjian tiba-tiba diperhadapkan pada suatu problema besar. Bangsa yang mendiami Kanaan terlalu kuat untuk dikalahkan. Ibaratnya Israel bagai belalang di hadapan raksasa. Akhirnya disimpulkan bahwa Kanaan hanyalah mimpi. Mengapa umat takut? Karena mereka berfokus pada kesulitan, sehingga tidak mau maju meraih berkat-Nya di tanah perjanjian. Bila kita memandang kesulitan jauh lebih besar dari pengharapan akan masa depan yang cerah, maka tak setitik kecerahan masa depan menjadi bagian dalam hidup kita. Segala sesuatu dapat terjadi dalam hidup ini, kesulitan dan pergumulan tak pernah jauh dari kehidupan kita, tetapi fokuskan pada apa yang ada di depan yang disediakan Allah dan terus melangkah bersama-Nya. Kehidupan kita mungkin sekarang berbeda dengan kehidupan bangsa Israel pada saat itu,kita tidak berperang melawan bangsa atau bahkan kerajaan. Namun banyak hal yang membuat kita tidak menjadi pemenang dalam kehidupan ini. Kaleb dan Yosua merupakan teladan atau contoh dari kehidupan Kristen yang sebenarnya, semangatnya, optimistisnya, bahkan visinya kedepan itu yang membuat mereka bertahan dalam kesetiaan kepada Allah yang Esa.
Sekarang kita bisa belajar mengapa mereka bisa memiliki kehidupan yang tak pernah menyerah bahkan ketika menghadapi suatu kemustahilan dalam kehidupan mereka, disertai dengan keadaan dan kondisi sekitar yang tidak memungkinkan, namun mereka tetap maju. Luar biasa apa yang membuat mereka bisa seperti itu ? dan apa yang juga bisa membuat kita memiliki kehidupan yang tak pernah menyerah ?
1. PERCAYA AKAN PENYERTAAN TUHAN DALAM HIDUP KITA ( Ul. 1:29-30 )
Kaleb dan Yosua sangat mempercayai penyertaan Tuhan dalam hidup mereka, karena itu tantangan yang mustahil sekalipun, jika bersama Tuhan maka mereka percaya akan dapat mengatasinya (Kej. 28:15). Firman Tuhan telah menuliskan banyak tentang janji penyertaan Tuhan dalam hidup orang percaya, tergantung seberapa jauh kita mempercayai itu. Kehidupan yang tak pernah menyerah adalah kehidupan yang tidak terlepas dari kehidupan yang mengikut sertakan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan kita. Jika setiap hari kita menyerahkan kehidupan kita kepada Tuhan itu pertanda kita mengijinkan Tuhan menyertai kehidupan kita. Jika kehidupan kita ada dalam penyertaan Tuhan maka kita akan menjadi Pribadi yang kuat dan berkemenangan. (janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. Yesaya 41:10 )
2. MEMILIKI IMAN ( Bil. 13:30 )
Bicara tentang iman, maka hal ini sudah menjadi perhatian kita sepanjang hari bahkan selama pengiringan kita kepada Yesus Kristus Tuhan kita. Tapi kita tidak bisa memungkiri bahwa banyak orang yang kurang peduli terhadap iman mereka, padahal hidup yang kita jalani sekarang ini adalah karena iman kepada Yesus (Gal. 2:20 ). Kebergantungan hidup kita, kemajuan hidup kita, ditentukan oleh seberapa besar iman kita dalam menghadapi semua itu. Kita lihat Kaleb dan Yosua, ketika menghadapi sebuah tantangan mereka memiliki iman yang luar biasa. Dikatakan dalam firman Allah "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" Luar biasa, suatu pernyataan yang bisa manjadi cermin buat kita ketika menghadapi pergumulan dan persoalan yang berat, yang memampukan kita untuk terus maju dan tak pernah menyerah dalam menghadapi apapun yang ada dihadapan kita. Berbeda dengan sepuluh orang yang lain mereka kalah sebelum bertindak, bukankah seringkali kita juga seperti itu? Kalah sebelum bertindak? Karena iman tanpa perbuatan iman kita akan mati. (Yak. 2:17).karena itu milikilah iman dalam hidup kita itulah yang memampukan kita bertahan dan maju dalam menjalani kehidupan kita, ingatlah bahwa iman itu tumbuh ketika kita senantiasa dengar-dengaran firman Tuhan. (Roma 10:17) jadi ketika kita rindu iman kita bertumbuh maka hal yang perlu kita lakukan adalah, Membaca, Merenungkan, melakukan dan menceritakan firman Tuhan dalam hidup kita.
Apa pun dapat digunakan Allah. Meskipun mereka melihat realita yang sama, namun kesimpulan Yosua dan Kaleb berbeda. Mengapa? Sepuluh pengintai melihat realita dengan "kaca-matanya" sendiri, sedangkan Yosua dan Kaleb melihat dengan "kaca-mata" Allah. Sepuluh orang melihat raksasa sedangkan yang dua melihat masa depan di tanah perjanjian yang disediakan Allah. Sepuluh orang goyah iman, tetapi yang dua memperteguh imannya didalam Allah.
Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!"
(Bilangan 13:30)
Segala sesuatu dapat terjadi, bahkan apa yang tidak pernah kita bayangkan juga dapat terjadi. Bangsa Israel yang sudah di ambang tanah perjanjian tiba-tiba diperhadapkan pada suatu problema besar. Bangsa yang mendiami Kanaan terlalu kuat untuk dikalahkan. Ibaratnya Israel bagai belalang di hadapan raksasa. Akhirnya disimpulkan bahwa Kanaan hanyalah mimpi. Mengapa umat takut? Karena mereka berfokus pada kesulitan, sehingga tidak mau maju meraih berkat-Nya di tanah perjanjian. Bila kita memandang kesulitan jauh lebih besar dari pengharapan akan masa depan yang cerah, maka tak setitik kecerahan masa depan menjadi bagian dalam hidup kita. Segala sesuatu dapat terjadi dalam hidup ini, kesulitan dan pergumulan tak pernah jauh dari kehidupan kita, tetapi fokuskan pada apa yang ada di depan yang disediakan Allah dan terus melangkah bersama-Nya. Kehidupan kita mungkin sekarang berbeda dengan kehidupan bangsa Israel pada saat itu,kita tidak berperang melawan bangsa atau bahkan kerajaan. Namun banyak hal yang membuat kita tidak menjadi pemenang dalam kehidupan ini. Kaleb dan Yosua merupakan teladan atau contoh dari kehidupan Kristen yang sebenarnya, semangatnya, optimistisnya, bahkan visinya kedepan itu yang membuat mereka bertahan dalam kesetiaan kepada Allah yang Esa.
Sekarang kita bisa belajar mengapa mereka bisa memiliki kehidupan yang tak pernah menyerah bahkan ketika menghadapi suatu kemustahilan dalam kehidupan mereka, disertai dengan keadaan dan kondisi sekitar yang tidak memungkinkan, namun mereka tetap maju. Luar biasa apa yang membuat mereka bisa seperti itu ? dan apa yang juga bisa membuat kita memiliki kehidupan yang tak pernah menyerah ?
1. PERCAYA AKAN PENYERTAAN TUHAN DALAM HIDUP KITA ( Ul. 1:29-30 )
Kaleb dan Yosua sangat mempercayai penyertaan Tuhan dalam hidup mereka, karena itu tantangan yang mustahil sekalipun, jika bersama Tuhan maka mereka percaya akan dapat mengatasinya (Kej. 28:15). Firman Tuhan telah menuliskan banyak tentang janji penyertaan Tuhan dalam hidup orang percaya, tergantung seberapa jauh kita mempercayai itu. Kehidupan yang tak pernah menyerah adalah kehidupan yang tidak terlepas dari kehidupan yang mengikut sertakan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan kita. Jika setiap hari kita menyerahkan kehidupan kita kepada Tuhan itu pertanda kita mengijinkan Tuhan menyertai kehidupan kita. Jika kehidupan kita ada dalam penyertaan Tuhan maka kita akan menjadi Pribadi yang kuat dan berkemenangan. (janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. Yesaya 41:10 )
2. MEMILIKI IMAN ( Bil. 13:30 )
Bicara tentang iman, maka hal ini sudah menjadi perhatian kita sepanjang hari bahkan selama pengiringan kita kepada Yesus Kristus Tuhan kita. Tapi kita tidak bisa memungkiri bahwa banyak orang yang kurang peduli terhadap iman mereka, padahal hidup yang kita jalani sekarang ini adalah karena iman kepada Yesus (Gal. 2:20 ). Kebergantungan hidup kita, kemajuan hidup kita, ditentukan oleh seberapa besar iman kita dalam menghadapi semua itu. Kita lihat Kaleb dan Yosua, ketika menghadapi sebuah tantangan mereka memiliki iman yang luar biasa. Dikatakan dalam firman Allah "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" Luar biasa, suatu pernyataan yang bisa manjadi cermin buat kita ketika menghadapi pergumulan dan persoalan yang berat, yang memampukan kita untuk terus maju dan tak pernah menyerah dalam menghadapi apapun yang ada dihadapan kita. Berbeda dengan sepuluh orang yang lain mereka kalah sebelum bertindak, bukankah seringkali kita juga seperti itu? Kalah sebelum bertindak? Karena iman tanpa perbuatan iman kita akan mati. (Yak. 2:17).karena itu milikilah iman dalam hidup kita itulah yang memampukan kita bertahan dan maju dalam menjalani kehidupan kita, ingatlah bahwa iman itu tumbuh ketika kita senantiasa dengar-dengaran firman Tuhan. (Roma 10:17) jadi ketika kita rindu iman kita bertumbuh maka hal yang perlu kita lakukan adalah, Membaca, Merenungkan, melakukan dan menceritakan firman Tuhan dalam hidup kita.
Apa pun dapat digunakan Allah. Meskipun mereka melihat realita yang sama, namun kesimpulan Yosua dan Kaleb berbeda. Mengapa? Sepuluh pengintai melihat realita dengan "kaca-matanya" sendiri, sedangkan Yosua dan Kaleb melihat dengan "kaca-mata" Allah. Sepuluh orang melihat raksasa sedangkan yang dua melihat masa depan di tanah perjanjian yang disediakan Allah. Sepuluh orang goyah iman, tetapi yang dua memperteguh imannya didalam Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)