Menyembah dan Bekerja
Banyak orang mengira bahwa keinginan Allah yang terbesar adalah memperoleh "pekerja-pekerja". Ini tidaklah benar. Yesus dengan jelas mengatakan pada murid-muridNya bahwa Allah Bapa sedang mencari "penyembah-penyembah" —mereka yang akan menyembahNya dalam Roh dan Kebenaran (Yoh 4 23).
Panggilan kita yang terbesar dan tertinggi adalah untuk menyembah Tuhan—sebelum melakukan segala sesuatu. Jika kita melakukannya, Allah tidak akan mengalami kekurangan pekerja. Penyembah-penyembah yang benar selalu menjadipekerja-pekerja yang benar. Kasih yang sejati selalu berusaha untuk menyenangkan dan melaksanakan kehendak dari orang yang dikasihinya!
Kebenaran ini tampak dengan jelas dalam kisah yang sangat kita kenal yaitu tentang Maria dan Martha (Luk 10:38-42). Martha sedang berada di dapur bekerja dan penuh rasa kekhawatiran. Maria berada di bawah kaki Yesus menyembah dan belajar untuk mendengar. Yesus berkata bahwa bagian Maria adalah yang paling penting, dan hal itu tidak akan diambil daripadanya.
Orang-orang Kristen bukan terutama "diselamatkan untuk melayani", tapi "dipanggil untuk menyembah". Tuhan menginginkan agar penyembahan itu menjadi pertama—sebelum segala sesuatu. Jika kita tidak masuk dalam pelayanan pada Tuhan, kita tidak akan pernah memiliki pelayanan yang efektif bagi sesama ataubagi dunia.
1. Gereja Di Antiokia
Gereja di Antiokia menunjukkan bahwa penyembahan harus ditempatkan sebagai hal penting yang pertama—bahkan sebelum kebaktian. Gereja ini adalah gereja yang "bekerja", tapi sebelum melakukan pekerjaannya lebih dahulu ada penyembahan.
Apa yang dilakukan gereja itu sebelum Paulus dan Barnabas dipilih oleh Roh dan diutus keluar sebagai "para pekerja" untuk misi di ladang-ladang Allah? Mereka menyembah Allah!
"Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka’"(Kis 13:2).
Sangatlah menarik untuk dicatat bahwa Kisah Rasul 13:1 mengatakan pada kita bahwa ada nabi-nabi dan guru-guru dalam gereja. Jelasnya, prioritas pelayanan mereka bukan bernubuat atau mengajar, tapi menyembah. Setiap orang menyembah melayani Tuhan. Dari pelayanan penyembahan mengalir nubuatan Allah tentang pekerjaan yang harus dilakukan.
Tingkatan atau tahap-tahap itu jelasnya dalam susunan seperti ini:
a. Penyembahan: Pertama, ada "penyembahan" bagi Tuhan
b. Firman: Kedua, ada "Firman" dari Tuhan
c. Pekerjaan: Ketiga, ada "pekerjaan" bagi Tuhan
Pelayanan pada dunia mengikuti pelayanan pada Tuhan.
2. Tidak Ada Penyembahan—Tidak Ada Hujan!
Prioritas ilahi untuk menyembah ini dapat dilihat dalam kata-kata nubuatan yang keluar dari mulut Zakharia: "Tetapi bila mereka dari kaum-kaum di bumi tidak datang ke Yerusalem untuk sujud menyembah kepada Raja, Tuhan semesta alam, makakepada mereka tidak akan turun hujan" (Za 14:7).
Prinsipnya sudah jelas: tidak ada penyembahan, tidak ada hujan! Kegiatan tanpa penyembahan akan menghasilkan sedikit tuaian—tidak peduli bagaimana kerasnya kita bekerja. Mengapa? Dibutuhkan hujan Roh Allah untuk menghasilkan tuaian. Tanpa penyembahan, kita tidak akan memperoleh hujan. Jika kita tidak memiliki waktu untuk menyembah, jam kerja kita akan hanya menghasilkan buah yang sedikit.Perintah ilahi Allah adalah untuk menyembah lalu bekerja. Pelayanan pada Tuhan menghasilkan berkat-berkat dari RohNya atas usaha kita. Tuhan jauh lebih Ada beberapa halangan tertentu untuk memuji, namun Allah menginginkan agar kita dapat memenangkan semua halangan-halangan itu. Dia tidak mau menerima halangan apapun yang kita kemukakan sebagai alasan untuk tidak memuji Dia.
1. Dosa
Dosa adalah halangan yang pertama untuk memuji. Ini adalah alasan dasar mengapa orang-orang yang belum bertobat tidak memuji Allah. Ini juga merupakan satu alasan mengapa beberapa orang Kristen juga tidak mau memuji Allah.
Dosa yang belum diakui menghalang-halangi kita di dalam hadirat Allah. Apabila kita menyadari adanya dosa yang belum diampuni dalam hidup kita, kita tak akan merasa bebas atau merasa tenang didalam hadirat Allah.
Daud berkata, "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, [ Apabila aku menyadari ada dosa di dalam hidupku], tentulah Tuhan tidak mau mendengar" (Mzm 66:18). Dosa dan kesalahan akan memisahkan kita dari Allah, (Yes 59:2) dan kita akan kehilangan persekutuan yang dulu pernah kita nikmati.
Adanya dosa dalam hidup kita akan mengikat lidah kita di hadapan Tuhan. Hal yang dapat kita bicarakan dengan bebas pada Dia dalam situasi seperti ini adalah dosa-dosa kita.
Jawaban yang jelas dari halangan ini ialah: Akuilah dosa-dosa itu pada Allah dan terimalah dengan sungguh-sungguh pengampunanNya dan penyucianNya sehingga hubungan kita dengan Allah dapat dipulihkan, dan pujian itu dapat mengalir dari diri kita (1Yoh 1:9)
2. Hukuman (Penuduhan)
Sekalipun kita telah diampuni oleh Tuhan, tidak selalu mudah untuk mengampuni diri kita sendiri. Banyak orang Kristen tetap tinggal di dalam perasaan bersalah dan tertuduh. Walaupun Allah dengan bebasnya mengampuni mereka, mereka tidak dapat mengampuni diri mereka sendiri.
Ini yang mengakibatkan suatu perasaan tidak berharga. Dan kebebasan untuk menyembah itu sepertinya terhambat. Mereka cenderung untuk "menundukkan kepalanya" di dalam hadirat Allah. Hadirat Allah cenderung membuat mereka merasa lebih tidak layak. Mereka tidak dapat merasa yakin akan kemurahan dan kasih karunia Allah yang telah diberikan kepada mereka. Sikap seperti ini seringkali datang karena kesadaran akan dirinya sendiri lebih besar dari kesadaran akan Allah. Apabila kita terus menerus menyelidiki hati kita dengan sikap yang negatif dan selalu mencari kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan kita, kita akan selalu menemukannya. Tidak seorang pun yang sempurna.
Inspeksi diri atau memeriksa diri sendiri yang keterlaluan ini pun tidak sehat. Perhatian itu selalu tertuju pada diri sendiri, bukan pada Yesus.
Alkitab menasehatkan kita untuk "Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan" (Ibr 12:2). Dan hal ini paling sedikit akan menyelesaikan dua hal:
Pertama, menghilangkan pemikiran-pemikiran dan perhatian pada diri kita sendiri dan mulai memandang Yesus. Yang kedua, makin kita melihat dan memikirkan Yesus, merenungkan tentang Dia, memenuhi segenap pikiran kita dengan Dia, maka makin kita mempunyai kerinduan untuk memuji Dia. Beginilah bagaimana pujian itu dimulai dengan memandang pada Yesus. Pujian dan penghargaan kita pada Dia akan makin bertambah pada saat kita melakukan ini. Kesadaran kita akan betapa layaknya Dia itu akan bertambah, dan ini akan meningkatkan pemikiran-pemikiran kita di dalam pujian dan penyembahan padaNya.
29 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar