29 Mei 2009

MAJU BERSAMA ALLAH
Keluaran 14:1-15

Bangsa Israel telah dituntun oleh Tuhan untuk keluar dari tanah Mesir, dan Tuhan juga telah melepaskan dari perbudakan yang menekan mereka selama ada di Mesir, namun ternyata perjalanan tidak semulus yang mereka bayangkan, perjalanan kepada negeri perjanjian tidak seindah yang mereka inginkan. ( Kel. 14:2 ) disana menuliskan Tuhan menyuruh mereka untuk kembali lagi dan berkemah ditepi laut, suatu hal yang sulit dan ketika para tentara Israel mengejar mereka, apa yang dapat mereka buat ? didepan mereka laut yang luas, dibelakang mereka ada pedang Firaun yang siap untuk meenghancurkan mereka, dan disekeliling mereka adalah gunung-gunung yang tinggi mengelilingi mereka lantas apa yang dapat mereka lakukan ( kel. 14:11-12 ), namun ketika mereka ada didalam keadaan seperti itu, hanya satu yang Tuhan perintahkan kepada mereka yaitu “maju”
Mungkin kita pernah mengalami hal yang sama namun tidak serupa artinya ada masa-masa atau keadaan dimana kita merasa tidak bisa berbuat apa-apa, ada pergumulan yang berat didepankita, ada bahaya besar yang ada dibelakang kita sedangkan gunung-gunung ada disekitar kita, atau mungkin itu terjadi dalam pelayanan kita saat ini, ketika kita melihat kedepan sepertinya tidak ada kemungkinan untuk maju, kalau kita melihat kebelakang sepertinya dikejar oleh tuntutan-tuntutan, apalagi melihat sekeliling kita ada banyak gunung-gunung yang tinggi, namun satu perintah yang sama Tuhan juga berikan buat kita semua yaitu “berangkat”, “maju”, inilah sesuatu yang tidak mudah kita kerjakan dalam kondisi yang mungkin seperti dialami oleh bangsa Israel pada waktu itu. Lantas apa yang kita perbuat ?
Mungkin, kalau kita melihat dan mengumpamakan diri kita bangsa Israel pada waktu itu pasti ada sesuatu ketidak percayaan yang ada dalam pikiran kita, kemustahilan dalam pikiran kita, atau sungut-sungut yang keluar dari lidah bibir kita. Itulah yang mungkin terjadi, namun Tuhan ingin ketika ketidakpercayaan itu mendatangi kita Tuhan menginginkan kita untuk mempercayai-Nya, ketika kemustahilan itu ada dalam pikiran kita, Tuhan mengingkan kita untuk berserah kepada-Nya, dan ketika muncul sungut-sungut dari lidah bibir kita maka disaat itulah Tuhan mengajar kita untuk bersyukur kepada-Nya. Jika dalam pelayanan kita sekarang kita mengalami kondisi yang seperti ini mari kita mulai mempercayakan pelayanan kita kepada Tuhan, karena pelayanan ini adalah milik-Nya, bukan milik kita kita hanya sebagai alat-Nya, ada sebuah kisah yang menggambarkan tentang rasa percaya ini. Di Afrika ada sebuah tim botanical yang sedang meneliti berbagai macam tumbuh-tumbuhan, dan juga bunga-bunga, ketika disuatu tempat mereka melihat ada sebuah bunga yang indah sekali, namun sayang sekali bunga itu ada disebuah jurang yang berbatu terjal, akhirnya tim peneliti ini mencari seorang yang mau turun untuk mengambil bunga itu, ketika bertemu seorang anak kecil salah seorang dari tim itu menawarkan uang $10 jika anak itu mau mengambil bunga itu untuk mereka, anak itu melihat bunga itu, dan setelah itu anak itu berkata “tunggu sebentar” dan ketika kembali anak itu membawa seorang yang sudah agak sedikit tua, dan anak itu berkata “saya mau turun mengambil bunga itu untuk anda jika bapak ini yang memegang tali, dia adalah bapak saya” seharusnya seperti itulah kepercayaan kita kepada Tuhan. Kepercayaan seperti itulah yang akan membawa kita kepada ketergantungan yang sungguh kepada Allah Bapa kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar